5:28 AM
Posted In
Dinosaurus
,
Fosil
,
Geografi
,
kepunahan
,
Mamalia Purba
,
Paleontologi
Edit This
Restorasi (A) Herpetotherium dan (B) Mimoperadectes. (Credit: Jorge González (La Plata, Argentina), courtesy Horovitz et al, PLoS One, doi:10.1371/journal.pone.0008278)
ScienceDaily (17 Desember 2009) — Seorang peneliti University of Florida telah melakukan studi melacak evolusi opossum modern pada masa kepunahan dinosaurus dan menemukan bukti yang mendukung Amerika Utara sebagai pusat asal usul semua marsupial yang hidup sekarang.
Studi ini , akan diterbitkan pada tanggal 16 desember di PLoS One , menunjukkan kalau peradektida, famili marsupial yang diketahui dari fosil yang sebagian besar ditemukan di Amerika Utara dan Eurasia, adalah kelompok saudara dari semua opossum yang hidup sekarang. Penemuan ini berdasarkan sebagian dari scan CT resolusi tinggi dari tengkorak berusia 55 juta tahun yang ditemukan di batuan air tawar dari Lembah Bighorn di Wyoming.
“Kepunahan dinosaurus adalah saat puncak dalam evolusi mamalia,” kata Jonathan Bloch, peneliti lain dan kurator paleontologi vertebrata di Florida Museum of Natural History Universitas Florida. "Kita melacak asal usul dari kelompok utama mamalia yang bermula di Amerika Utara.”
Peradectida mirip opossum pertama muncul di benua ini sekitar 65 juta tahun lalu, pada saat peristiwa kepunahan Kapur-Paleogen, yang membunuh dinosaurus
“Amerika Utara adalah daerah kritis untuk memahami asal usul marsupial dan opossum karena luas dan memiliki beragam fosil,” kata peneliti utama Inés Horovitz, profesor dari University of California, Los Angeles. "Sayangnya, sebagian besar spesiesnya hanya dikenali dari gigi.”
Studi ini juga menganalisa dua kerangka Herpetotheriidae berusia 30 juta tahun, kelompok saudari dari semua marsupial yang masih hidup sekarang.
Berdasarkan pada bukti fosil dari tengkorak dan dua kerangka, para peneliti menyimpulkan pemisahan evolusi antara leluhur opossum dan leluhur semua marsupial yang hidup sekarang terjadi setidaknya 65 juta tahun lalu, kata Horovitz.
Marsupial bermigrasi antara Amerika Utara dan Selatan hingga kedua benua terpisahkan setelah akhir periode Kapur. Marsupial di Amerika Selatan menjadi beragam dan juga bermigrasi ke Antartika dan Australia, yang masih terhubung zaman itu, kata Bloch.
Marsupial Amerika Utara punah pada zaman Miosen awal, sekitar 20 juta tahun lalu. Namun setelah isthmus Panama muncul untuk menghubungkan kembali Amerika Utara dan Selatan 3 juta tahun lalu, dua marsupial berhasil kembali ke Amerika Utara: Opossum Virginia (Didelphis virginiana), sekarang menjadi populasi umum di Amerika Serikat Tenggara, dan Opossum Selatan (Didelphis marsupialis), yang tinggal di Meksiko bagian Utara.
Studi ini menjelaskan sebuah spesies peradectida baru, Mimoperadectes houdei, berdasarkan pada tengkorak fosil yang relatif lengkap. Scan CT resolusi tinggi pada tengkorak memberi para peneliti sejumlah besar informasi mengenai anatomi dalam hewan ini. Telinga, misalnya, memberi para peneliti informasi mengenai anatomi tengkorak dan petunjuk mengenai pergerakan hewan ini, kata Bloch.
Scan menunjukkan spesies baru ini memiliki cukup sifat bersama dengan oposum modern untuk menunjukkan hubungan evolusi. Beberapa prediksi mengenai hubungan itu dapat dibuat dari fosil gigi, kata Bloch, “namun ini memberikan landasan jauh lebih kuat untuk kesimpulan tersebut.”
Sebagian besar marsupial Amerika Utara yang tinggal di zaman paleosin dan eosin awal (56 juta hingga 48 juta tahun lalu) merupakan hewan bertubuh kecil. Namun M. houdei mendekati ukuran tubuh beberapa opossum yang hidup di masa kini.
“Anda mungkin mengenalnya sebagai opossum, namun itu salah,” kata Bloch.
Tengkorak ini datang dari deposit batuan yang sama di Wyoming seperti tengkorak primata primitif Bloch dan peneliti lain memakainya untuk memetakan otak primata purba dengan scan CT dalam sebuah studi yang sudah diterbitkan di awal tahun ini.
“Dalam bagian Amerika Utara sekarang, opossum adalah salah satu mamalia yang paling umum ditemukan di sekitar,” kata Bloch. “Tengkorak fosil ini menunjukkan akarnya kembali pada kepunahan dinosaurus. Ini jelas fosil yang menunjukkan kita leluhur hewan tersebut.”
Pemeriksaan penelitian pada kedua kerangka memberi petunjuk pertama pada bentuk dan struktur marsupial primitif dan menunjukkan kalau mereka lebih teresterial daripada opossum modern. Kerangka-kerangka ini datang dari Oligosen akhir dan ditemukan di White River Badlands , Wyoming.
Tim peneliti internasional ini juga beranggotakan Thomas Martin (University of Bonn, Jerman), Sandrine Ladevèze dan Marcelo Sánchez-Villagra (University of Zurich, Swiss), dan Cornelia Kurz (Natural History Museum, Kassel, Jerman).
Referensi Jurnal
Inés Horovitz, Thomas Martin, Jonathan Bloch, Sandrine Ladevèze¤, Cornelia Kurz, Marcelo R. Sánchez-Villagra. Cranial Anatomy of the Earliest Marsupials and the Origin of Opossums. PLoS ONE, 4(12): e8278 DOI: 10.1371/journal.pone.0008278
4:56 AM
Posted In
Evolusi manusia
,
Kebudayaan
,
Manusia Purba
,
Penyakit dan kondisi
,
Peradaban kuno
,
Tuberculosis
Edit This
Ini adalah sampel dari selubung yang menunjukkan rajutan dua arah yang dipakai untuk kain kafan di Yerusalem pada abad ke-1 Masehi . (Credit: Prof. Shimon Gibson)
ScienceDaily (Dec. 16, 2009) — DNA dari manusia berselubung abad pertama ditemukan dalam sebuah makam di pinggiran kota tua Yerusalem mengungkapkan kasus tertua penyakit lepra.
Gua makam, yang dikenal sebagai Tomb of the Shroud, berada di hilir lembah Hinnom dan merupakan bagian dari pekuburan abad pertama masehi yang dikenal sebagai Akeldama atau ‘Padang Darah’ (Matthew 27:3-8; Acts 1:19) – dekat dengan daerah dimana Yudas dikatakan melakukan bunuh diri. Makam manusia berselubung ini berada di dekat makam Annas, sang pendeta tinggi ( 6 – 15 M), yang merupakan mertua dari Caiaphas, pendeta tinggi yang dikatakan mengkhianati Yesus pada Romawi. Dengan ini disimpulkan kalau sang manusia berselubung ini adalah seorang pendeta atau anggota pejabat. Menurut Prof. Gibson, pandangan dari makam ini mengarah langsung ke Kuil Yahudi.
Detil penelitian ini akan diterbitkan tanggal 16 desember dalam jurnal PLoS ONE.
Penyelidikan molekuler dilakukan oleh Prof. Mark Spigelman dan Prof. Charles Greenblatt dari Sanford F. Kuvin Center for the Study of Infectious and Tropical Diseases di Hebrew University of Jerusalem, Prof. Carney Matheson dan Ms. Kim Vernon dari Lakehead University, Canada, Prof. Azriel Gorski dari New Haven University dan Dr. Helen Donoghue dari University College London. Penggalian arkeologis dipimpin oleh Prof. Shimon Gibson, Dr. Boaz Zissu dan Prof. James Tabor atas kuasa Israel Antiquities Authority dan University of North Carolina at Charlotte.
Tidak ada kuburan kedua
Yang langka mengenai kuburan ini adalah jelas kalau pria ini, yang berdasarkan metode radiokarbon hidup antara 1 – 50 M, tidak menerima penguburan kedua. Kuburan sekunder adalah umum di masa itu, dimana tulang dipindahkan setelah satu tahun dan dimasukkan kedalam ossuari (kotak tulang batu). Dalam kasus ini, bukaan pada bagian makam ini sepenuhnya tersegel dengan plaster. Prof. Spigelman yakin ini karena fakta kalau pria ini menderita lepra dan mati karena tuberkulosis, karena DNA dari kedua penyakit ditemukan dalam tulang belulangnya.
Secara sejarah, adanya penyakit – khususnya lepra – menyebabkan individu yang terkena dibuang dari masyarakat. Namun, sejumlah indikasi – lokasi dan ukuran makam, tipe tekstil yang dipakai sebagai kafan, dan keadaan rambut yang bersih – menunjukkan kalau individual berselubung ini adalah anggota masyarakat yang cukup terhormat di Yerusalem dan bahwa tuberkulosis dan lepra telah melintasi batasan sosial di abad pertama masehi.
Menyanggah selubung Turin?
Ini juga potongan pertama kali kain kapan ditemukan dari masa Yesus di Yerusalem. Kain kafan ini sangat berbeda dengan selubung Turin, yang diasumsikan yang dipakai untuk mengkafani tubuh Yesus. Tidak seperti rajutan rumit di selubung Turin, selubung ini dibuat dari rajutan dua arah sederhana, seperti ditunjukkan oleh sejarawan tekstil Dr. Orit Shamir
Berdasarkan asumsi kalau ini mewakili kain kafan yang umum digunakan di masa Yesus, para peneliti menyimpulkan kalau Selubung Turin tidak berasal dari Yerusalem masa Yesus.
Penggalian juga menemukan segumpal rambut pria berselubung ini, yang telah dipotong secara ritual saat penguburannya. Keduanya merupakan penemuan yang unik karena sisa-sisa organis sulit dilestarikan di daerah Yerusalem karena tingkat kelembaban yang tinggi di tanah.
Kesehatan sosial di masa lalu
Menurut Prof. Spigelman dan Prof. Greenblatt, asal usul dan perkembangan lepra sangat tidak jelas. Penyakit lepra di kitab Perjanjian Baru dapat berarti gangguan kulit seperti psoriasis. Penyakit lepra yang diketahui sekarang dipandang berasal dari India dan dibawa ke Timur Dekat dan negara Mediterania dalam masa Yunani Kuno. Hasil dari Tomb of the Shroud abad pertama masehi mengisi celah vital dalam pengetahuan kita mengenai penyakit ini.
Lebih jauh, penelitian terbaru menunjukkan kalau patologi molekuler jelas menambah dimensi baru pada penjelajahan arkeologis penyakit di zaman kuno dan memberi kita pemahaman yang lebih baik mengenai evolusi, persebaran geografis dan epidemiologi penyakit dan kesehatan sosial di masa kuno.
Infeksi bersama antara lepra dan tuberkulosis disini dan dalam 30 persen sisa DNA di Israel dan Eropa dari periode purba dan modern memberi bukti pada postulat kalau wabah lepra zaman pertengahan dihilangkan oleh peningkatan taraf tuberkulosis di Eropa saat daerah ini diurbanisasi.
Referensi jurnal
Carney D. Matheson, Kim K. Vernon, Arlene Lahti, Renee Fratpietro, Mark Spigelman, Shimon Gibson, Charles L. Greenblatt, Helen D. Donoghue. Molecular Exploration of the First-Century Tomb of the Shroud in Akeldama, Jerusalem. PLoS ONE, 2009; DOI: 10.1371/journal.pone.0008319
3:44 AM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Tidak terdapat bukti kalau manusia pada awalnya memiliki keyakinan pada keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya terdapat bukti nyata, diambil bukan dari para petualang, tapi dari mereka yang telah lama tinggal dengan orang primitif, kalau sejumlah ras ada, dan masih ada, namun tidak memiliki gagasan mengenai keberadaan satu atau beberapa tuhan, dan bahkan tidak memiliki kata dalam bahasanya yang dapat menunjukkan gagasan demikian. (74. Lihat sebuah artikel luar biasa yang membahas hal ini karya Rev. F.W. Farrar, dalam 'Anthropological Review,' Aug. 1864, p. ccxvii. Untuk fakta lebih jauh lagi lihat Sir J. Lubbock, 'Prehistoric Times,' 2nd edit., 1869, p. 564; dan khususnya pada bab agama dalam karyanya 'Origin of Civilisation,' 1870.) Pertanyaannya tentu saja berbeda dari yang lebih tinggi, apakah ada Tuhan dan Penguasa Alam Semesta; dan ini telah dijawab dalam bentuk afirmatif oleh beberapa intelektual tertinggi yang pernah ada.
Bila, walau demikian, kita memasukkannya dalam istilah “agama” keyakinan pada agen spiritual atau yang tak terlihat, kasus ini sepenuhnya akan berbeda; karena keyakinan ini tampaknya universal dengan ras-ras yang kurang berperadaban. Tidak pula sulit memahami bagaimana ia muncul. Segera setelah imajinasi, kekaguman dan rasa ingin tahu, bersama dengan beberapa bentuk penalaran, berkembang sebagian, manusia secara alami memahami apa yang lewat disekitarnya, dan akan berspekulasi mengenai keberadaannya sendiri. Sebagaimana Mr. M'Lennan (75. 'The Worship of Animals and Plants,' dalam 'Fortnightly Review,' Oct. 1, 1869, p. 422.) sudah tunjukkan, “Sebaguan penjelasan fenomena kehidupan, harus dicari oleh manusia itu sendiri, dan untuk menilai dari universalitasnya, hipotesis paling sederhana dan pertama terjadi pada manusia, tampaknya fenomena alam diserahkan pada keberadaan dalam hewan, tanaman dan benda, dan dalam gaya-gaya alam, dari roh yang melakukan tindakan saat manusia sadar mereka sendiri memilikinya.” Juga mungkin, sebagaimana ditunjukkan Tuan Tylor, bahwa mimpi pertama kali muncul mengenai roh; karena para primitif tidak siap dalam membedakan antara impresi subjektif dan objektif. Saat datang dari jauh dan berdiri di depannya; atau “roh dari para pemimpi melakukan perjalanan, dan pulang dengan ingatan apa yang telah ia lihat.” (76. Tylor, 'Early History of Mankind,' 1865, p. 6. Lihat juga bab-bab mengesankan mengenai 'Development of Religion,dalam karya Lubbock 'Origin of Civilisation,' 1870. Dalam hal yang sama, tuan Herbert Spencer, dalam esai briliannya di 'Fortnightly Review' (May 1st, 1870, p. 535), menceritakan tentang bentuk-bentuk tertua keyakinan agama di penjuru dunia, dimana manusia dikendalikan lewat mimpi, bayangan dan sebab lain, untuk melihat dirinya sendiri sebagai zat ganda, yang spiritual. Karena mahluk spiritual dianggap ada setelah mati dan menjadi kuat, ia diberi berbagai hadiah dan perayaan, dan bantuannya dipinta. Ia lebih jauh menunjukkan kalau nama atau nama panggilan dari beberapa hewan atau benda lain, dinisbahkan pada leluhur atau pendiri suku, karena dianggap hewan atau benda tersebut secara alami dipandang masih ada dalam ujud roh, dianggap suci, dan disembah sebagai Tuhan. Saya menduga kalau ada tahap yang lebih kasar dan lebih purba dari ini, saat segalanya yang memanifestasikan kekuatan atau pergerakan dipandang memiliki kehidupan, dan dengan kekuatan mental analog dengan milik kita.) Namun sampai taraf imajinasi, rasa ingin tahu, penalaran dll., yang telah berkembang dalam pikiran manusia, mimpinya tidak akan membawanya pada kesimpulan keyakinan pada roh, sama halnya dengan anjing.
Kecenderungan orang primitif untuk membayangkan kalau benda dan agen alami dijalankan oleh esensi spiritual atau hidup, mungkin di ilustrasikan oleh sebuah fakta kecil yang pernah saya amati; anjing saya, hewan yang tumbuh dewasa dan sangat perasa, berbaring di beranda pada hari yang panas dan tenang; namun pada jarak jauh ada sedikit angin yang yang menggerakkan sebuah payung terbuka, yang tanpa sepengetahuan sang anjing, bertopang pada pegangannya di tanah. Setiap kali payung itu bergerak karena tertiup angin, sang anjing mengeram dan mengonggong. Ia pasti, saya rasa, bernalar secara cepat dan tanpa sadar, kalau gerakan tanpa adanya penyebab yang tampak menunjukkan keberadaan semacam agen hidup yang aneh, dan tidak ada orang asing yang berada di sekitarnya.
Keyakinan pada agen spiritual akan dengan mudah menuju pada keyakinan keberadaan satu atau lebih Tuhan. Bagi orang primitif secara alami mengatribusikannya pada roh emosi yang sama, seperti dendam atau bentuk keadilan yang paling sederhana, dan rasa kasih sayang yang mereka rasakan. Para Fuegia tampak melihat ini dalam kondisi perantara, dimana seorang dokter bedah di kapal Beagle menembak beberapa bebek sebagai spesimen, York Minster menyatakannya dengan khidmat, “Oh, Tuan Bynoe, banyak hujan, banyak salju, bertiup kencang”; dan ini terbukti sebagai hukuman karena menyia-nyiakan makanan manusia. Jadi kembali ia mengkaitkan bagaimana, saat saudaranya membunuh seorang “liar”, badai lama berlangsung, banyak hujan dan salju turun. Namun kita tidak pernah menemukan kalau para Fuegia yakin pada apa yang kita sebut Tuhan, atau melakukan ritual agama apapun; dan Jemmy Button, dengan penuh percaya diri, mengatakan kalau tidak ada setan di negerinya. Pernyataan terakhir ini lebih nyata, dibandingkan dengan orang primitif yang merujuk roh yang jahat lebih sering daripada roh yang baik.
Perasaan religius termasuk rumit, terdiri dari cinta, pengabdian penuh pada superior yang lebih kuat dan misterius, rasa ketergantungan yang kuat (77. Lihat sebuah artikel bagus mengenai 'Physical Elements of Religion,' oleh Tuan L. Owen Pike, dalam 'Anthropological Review,' April, 1870, p. lxiii.), rasa takut, perlindungan, rasa terima kasih, harapan, dan mungkin unsur lainnya. Tidak ada mahluk yang dapat merasakan emosi yang begitu rumit hingga kemajuan dalam kecerdasan dan moralnya paling tidak pada tingkat cukup tinggi. Namun, kita melihat beberapa pendekatan pada keadaan pikiran dalam kasih sayang mendalam seekor anjing pada tuannya, berhubungan dengan pengabdian sepenuhnya, rasa takut, dan mungkin perasaan lainnya. Perilaku anjing saat pulang kepada tuannya setelah menghilang, dan, sebagaimana saya tambahkan, dari monyet kepada pemeliharanya, sangat berbeda dari rekan mereka yang lain. Dalam kasus terakhir kemunculan rasa senang tampak lebih sedikit, dan rasa kebersamaan muncul dalam setiap tindakan. Professor Braubach melangkah sangat jauh dengan mengatakan kalau seekor anjing melihat tuannya sebagai Tuhan. (78. 'Religion, Moral, etc., der Darwin'schen Art-Lehre,' 1869, s. 53. Dikatakan kalau (Dr. W. Lauder Lindsay, 'Journal of Mental Science,' 1871, p. 43), Bacon sejak lama, dan penyair Burns, juga berpendapat sama.)
Kualitas mental yang sama yang pertama membawa manusia yakin pada agen spiritual yang tak terlihat, kemudian pada fetishisme, politeisme, dan pada puncaknya ke monoteisme, akan memandunya, sejauh kekuatan penalarannya tetap kurang berkembang, ke beragam takhayul dan kebiasaan. Banyak hal buruk yang dapat dipikirkan – seperti pengorbanan jiwa manusia pada Tuhan yang haus darah; pengadilan orang-orang tidak berdosa dengan racun atau dibakar; sihir, dll. – mencerminkan dengan jelas takhayul ini, dan mereka menunjukkan tak terbatasnya hutang budi kita pada kemajuan nalar kita, pada sains, dan pada pengetahuan kita yang terus bertambah. Sebagaimana Sir J. Lubbock (79. 'Prehistoric Times,' 2nd edit., p. 571. Dalam karyanya (p. 571) akan ditemukan berbagai pembahasan mengenai perilaku aneh dan menyeramkan dari orang primitif.) mengamati dengan baik, “tidak banyak yang dapat dikatakan pada rasa takut mengerikan pada setan yang tidak diketahui yang menggantung seperti awan tebal diatas kehidupan masyarakat primitif, dan menghambarkan setiap rasa senang.” Akibat menyedihkan dan tidak langsung dari kualitas tertinggi kita dapat dibandingkan dengan kesalahan tidak disengaja yang sering terjadi dalam naluri hewan tingkat rendah.
3:42 AM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Rasa ini telah dinyatakan hanya dimiliki manusia. Saya merujuk hanya pada kesenangan yang diberikan oleh warna, bentuk dan suara tertentu, dan yang dapat dengan adil disebut sebagai rasa keindahan; yang bagi orang beradab sensasi ini erat kaitannya dengan gagasan yang rumit dan tindakan berpikir. Saat kita melihat seekor burung jantan menunjukkan bulunya yang indah atau warnanya yang mengagumkan di depan betinanya, sementara burung lainnya, tidak didekorasi, tidak memiliki pertunjukan demikian, adalah mustahil meragukan kalau ia mengagumi keindahan pasangan jantannya. Sebagaimana wanita dimana saja menyukai bulu ini, keindahan ornamen ini tidak dapat disangkal. Sebagaimana akan kita lihat selanjutnya, sarang burung kolibri, dan tempat bermain burung bower dihias dengan benda berwarna cerah; dan ini menunjukkan kalau mereka memperoleh kesenangan dari melihat benda ini. Dengan mayoritas hewan, walau begitu, rasa keindahan berkaitan, sebagai mana akan kita nilai, dengan daya tarik lawan jenis. Untai manis yang dituangkan oleh burung jantan pada musim kawin, jelas dihargai oleh betina, yang faktanya akan diberikan. Bila burung betina tidak mampu menghargai warna, hiasan, dan suara pasangan jantan mereka yang indah, semua usaha dan kecemasan yang ditunjukkan oleh pejantan dalam menunjukkan pesonanya di depan betina akan segera lenyap; dan ini mustahil diakui. Kenapa warna cerah tertentu mesti merangsang kesenangan tidak dapat, saya rasa, dijelaskan, sama halnya dengan kenapa rasa atau bau tertentu disenangi; namun perilaku memiliki hubungan dengan hasilnya, untuk itu pada sesuatu yang pada awalnya tidak menarik bagi indera kita, akhirnya menjadi menyenangkan, dan kebiasaan ini diwariskan. Mengenai suara, Helmholtz telah menjelaskan pada taraf tertentu pada prinsip fisiologis, kenapa harmoni dan nada tertentu dapat disetujui. Namun disamping ini, suara yang sering terjadi pada selang yang tidak beraturan tidak disukai, sebagaimana diakui oleh setiap orang yang pernah mendengar di waktu malam suara kepakan dari tali di kapal. Prinsip yang sama tampak berlaku dengan pencitraan, karena mata memilih simetri atau citra dengan keteraturan. Pola jenis ini dipakai bahkan oleh manusia primitif sebagai perhiasan; dan mereka telah dikembangkan lewat seleksi seksual untuk pesona beberapa hewan jantan. Apakah bisa atau tidak diberikan alasan untuk kesenangan yang kita peroleh dari melihat dan mendengar, tetap manusia dan hewan tingkat rendah merasa senang dengan warna yang sama, arsiran dan bentuk yang sama, dan suara yang sama.
Rasa keindahan, setidaknya selama keindahan betina dipertimbangkan, bukanlah sifat khusus dari pikiran manusia; karena ia berbeda dalam beragam ras manusia, dan tidak sama bahkan dalam beragam bangsa dari ras yang sama. Menilai dari perhiasan dan musik yang dinikmati oleh sebagian besar bangsa primitif, dapat dikatakan kalau estetika mereka tidak lebih berkembang dibandingkan hewan tertentu, misalnya, seperti burung. Jelas tidak ada hewan yang mampu mengagumi keindahan langit di waktu malam, keindahan pemandangan alam, atau musik yang merdu; namun rasa yang tinggi seperti itu didapatkan dari budaya, dan tergantung pada asosiasi rumit; mereka tidak dinikmati oleh orang primitif atau oleh orang yang tidak terpelajar.
Banyak hal ini, yang tidak dapat diukur pada manusia karena kemajuannya yang terus bertambah, seperti kekuatan imajinasi, kekaguman, rasa penasaran, rasa keindahan yang tidak terdefinisi, kecenderungan imitasi, dan cinta pada kegembiraan dan hal-hal baru, sulit membawa pada perubahan kebiasaan dan gaya. Saya telah menyinggung hal ini, karena seorang penulis baru (73. 'The Spectator,' Dec. 4th, 1869, p. 1430.) telah anehnya terpaku padanya sebagai “Salah satu perbedaan paling nyata dan khas antara orang liar dan kasar. "Tetapi tidak hanya sebagian kita dapat mengerti bagaimana itu adalah bahwa manusia adalah dari berbagai pengaruh yang saling bertentangan yang diberikan berubah-ubah, tetapi bahwa binatang yang lebih rendah, seperti yang akan kita lihat nanti, juga berubah-ubah dalam kasih sayang, keengganan, dan rasa keindahan. Ada juga alasan untuk mencurigai bahwa mereka mencintai sesuatu yang baru, demi kepentingannya sendiri.
3:34 AM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Karakteristik ini telah lama dipandang sebagai pembeda utama antara manusia dan hewan tingkat rendah. Namun manusia, sebagai penilai yang sangat kompeten, disebut oleh Archbishop Whately, “bukan satu-satunya hewan yang dapat menggunakan bahasa untuk mengekspresikan apa yang terlintas dalam pikirannya, dan dapat memahami, lebih atau kurang, apa yang diekspresikan oleh orang lain.” (47. Dikutip dari 'Anthropological Review,' 1864, p. 158.) Di Paraguay, Cebus azarae saat gembira mengucapkan paling tidak enam suara berbeda, yang diikuti oleh monyet lainnya yang mengalami emosi yang sama. (48. Rengger, ibid., s. 45.) Gerakan dari fitur dan gerakan tangan monyet dipahami oleh kita, dan mereka sebagian memahami kita, sebagaimana dinyatakan oleh Rengger dan lainnya. Adalah sebuah fakta kalau anjing, sejak di pelihara, telah belajar menyalak (49. Lihat tulisan saya 'Variation of Animals and Plants under Domestication,' vol. i., p. 27.) dalam paling tidak empat atau lima nada berbeda. Walau menyalak adalah budaya yang baru, tidak diragukan kalau spesies leluhur liar anjing menunjukkan perasaan mereka dengan melolong dalam berbagai jenis suara. Dengan anjing peliharaan kita memiliki salak kegembiraan, seperti saat berburu; suara kemarahan, seperti saat menggeram; melolong putus asa, saat dikunci; menangis di waktu malam; suara kegembiraan, saat mulai berjalan dengan tuannya; dan perbedaan nada suara saat meminta atau menolak sesuatu, seperti saat meminta pintu atau jendela di buka. Menurut Houzeau, yang memperhatikan seksama subjek ini, anjing peliharaan mengucapkan paling tidak selusin jenis suara yang berbeda. (50. 'Facultes Mentales des Animaux,' tom. ii., 1872, p. 346-349.)
Kebiasaan menggunaan bahasa penekanan, aneh pada manusia; namun ia menggunakan, sama seperti pada hewan tingkat rendah, teriakan non artikulasi untuk mencerminkan maknanya, dibantu dengan gerakan tubuh dan otot wajah. (51. Lihat bahasan mengenai subjek ini dalam karya menarik Tuan E.B. Tylor, 'Researches into the Early History of Mankind,' 1865, chaps. ii. to iv.) Ini khususnya baik dengan perasaan yang lebih sederhana dan jelas, yang sedikit hubungannya dengan kecerdasan tingkat tinggi. Teriakan kesakitan, takut, terkejut, marah, bersama dengan tindakan yang bersesuaian, dan duka seorang ibu pada anaknya lebih ekspresif dari pada kata-kata. Bahwa yang membedakan manusia dari hewan tingkat rendah bukan pada pemahaman suara artikulasi, karena, sebagaimana semua orang tahu, anjing memahami banyak jenis kata dan kalimat. Dalam hal ini mereka berada pada tahap perkembangan yang setara dengan bayi manusia, antara usia sepuluh hingga dua belas bulan, yang memahami banyak kata dan kalimat pendek, namun tidak dapat mengucapkan satu kata pun. Ini bukan karena artikulasi yang membedakan karakter kita, karena beo dan burung lain memiliki kemampuan ini pula. Bukan pula kapasitas menghubungkan suara dengan gagasan; karena jelas kalau beberapa beo, yang telah diajar berbicara, menghubungkan kata tersebut dengan benda, dan orang dengan kejadian. (52. Saya telah menerima beberapa bahasan detil mengenai efek ini. Admiral Sir B.J. Sulivan, yang saya kenal sebagai pengamat yang sangat teliti, meyakinkan saya kalau seekor beo di Afrika, lama disimpan di rumah ayahnya, dapat menyebutkan orang-orang di rumah, termasuk pula pengunjung, dengan nama mereka. Ia mengatakan “selamat pagi” pada setiap orang waktu sarapan, dan “selamat malam” pada setiap orang saat mereka akan tidur, dan tidak pernah terbalik dalam mengucapkan ini. Pada ayah Sir B.J. Sulivan, ia sering menambahkan kalimat pendek pada kata “selamat pagi”, yang tidak pernah sekali berulang setelah kematian ayahnya. Ia berteriak marah saat seekor anjing aneh dapat kedalam ruangan lewat jendela yang terbuka; dan ia menyebut beo lainnya (mengatakan “kamu polly yang nakal”) yang keluar dari kandangnya, dan memakan apel di meja dapur. Lihat pula, efek yang sama, Houzeau mengenai beo, 'Facultes Mentales,' tom. ii., p. 309. Dr. A. Moschkau memberi tahu saya kalau ia tahu seekor starling yang tidak pernah salah menyebutkan “selamat pagi” dalam bahasa jerman pada orang yang datang, dan “selamat tinggal, teman lama,” pada mereka yang pergi. Saya bisa menambahkan beberapa kasus lain yang sejenis.) Hewan tingkat rendah dari manusia hanya berbeda dalam kekuatan manusia yang hampir tak terbatas dalam membuat asosiasi bersama dengena suara dan gagasan yang berbeda; dan ini jelas tergantung pada perkembangan yang tinggi dari kekuatan mentalnya.
Sebagaimana Horne Tooke, salah seorang pendiri sains filologi, mengamati, bahasa adalah sebuah seni, seperti membuat anggur atau roti; namun menulis merupakan simile yang lebih baik. Ia jelas bukan naluri sejati, karena setiap bahasa harus dipelajari. Ia berbeda, walau begitu, secara luas dari semua seni biasa, karena manusia memiliki kecenderungan naluriah untuk berbicara, sebagaimana kita lihat pada bunyi yang keluar dari mulut anak-anak; sementara tidak ada anak yang secara naluriah cenderung membuat roti, anggur atau menulis. Lebih jauh, tidak ada filologis sekarang menganggap kalau ada bahasa yang telah dibuat sendiri sekaligus; ia dibuat secara perlahan dan tanpa sadar dalam banyak langkah. (53. Lihat beberapa bahasan menarik mengenai hal ini dari Prof. Whitney, dalam karyanya 'Oriental and Linguistic Studies,' 1873, p. 354. Ia mengamati kalau keinginan untuk berkomunikasi antara manusia adalah gaya pengendali, yang, dalam perkembangan bahasa, “bekerja secara sadar dan tidak sadar; sadar dilihat dari bagaimana cepatnya ia didapatkan; tidak sadar bila melihat bagaimana konsekuensi lebih jauh dari tindakan.” Suara yang diucapkan burung berbeda dalam beberapa hal dalam analogi terdekat bahasa, karena semua anggota dalam satu spesies mengucapkan teriakan naluriah yang sama untuk mengekspresikan emosinya; dan semua jenis yang bisa menyanyi, mengeluarkan kekuatan mereka secara naluriah; namun lagu sesungguhnya, dan bahkan nada suara, dipelajari dari orang tua atau orang tua angkatnya. Suara ini, sebagaimana dibuktikan oleh Daines Barrington (54. Hon. Daines Barrington in 'Philosoph. Transactions,' 1773, p. 262. Lihat juga Dureau de la Malle, in 'Ann. des. Sc. Nat.' 3rd series, Zoolog., tom. x., p. 119.), “tidak lebih dari bahasa yang dipakai manusia.” Usaha pertama untuk menyanyi “dapat dibandingkan dengan usaha balita dalam mengucapkan kata secara tidak sempurna.” Jantan yang masih muda terus berlatih, atau seperti dikatakan oleh penangkap burung, “merekam”, selama sepuluh hingga sebelas bulan. Lagu pertama mereka menunjukkan lagu yang kasar; namun saat mereka tumbuh dewasa kita dapat melihat kalau mereka bertambah mahir dan paling tidak dikatakan “menyanyikan lagu mereka dengan bulat.” Penghuni sarang yang telah mempelajari lagu dari spesies berbeda, sebagaimana burung kenari yang diajari di Tyrol, mengajar dan mentransmit lagu barunya kepada keturunannya. Perbedaan alami kecil dalam suara spesies yang sama menempati distrik yang berbeda dapat dibandingkan, sebagaimana dinyatakan Barrington, “seperti dialek provinsi”; dan lagu-lagu disekutukan, walau spesies berbeda dapat dibandingkan dengan bahasa dari ras manusia yang berbeda. Saya telah memberikan detil untuk menunjukkan kalau kecenderungan mendapatkan seni tidaklah unik pada diri manusia.
Dengan melihat apda asal usul bahasa artikulasi, setelah membaca satu sisi dari karya yang sangat menarik dari Tuan Hensleigh Wedgwood, the Rev. F. Farrar, dan Prof. Schleicher (55. 'On the Origin of Language,' by H. Wedgwood, 1866. 'Chapters on Language,' by the Rev. F.W. Farrar, 1865. Karya ini yang paling menarik. Lihat juga 'De la Phys. et de Parole,' par Albert Lemoine, 1865, p. 190. Karya pada subjek ini, oleh Prof. Aug. Schleicher, yang diterjemahkan oleh Dr. Bikkers kedalam bahasa Inggris, dengan judul 'Darwinism tested by the Science of Language,' 1869.), dan kuliah-kuliah meriah dari Prof. Max Muller di sisi lain, saya tidak dapat meragukan kalau bahasa berhutang asal usul pda imitasi dan modifikasi beragam suara alami, suara hewan lain, dan teriakan naluriah manusia sendiri, dibantu dengan tanda dan gerakan tubuh. Saat kita memberlakukan seleksi seksual kita akan melihat kalau manusia purba, atau leluhur manusia yang lebih awal, mungkin memakai suaranya pertama dalam menghasilkan nada musik sejati, yaitu nyanyian, seperti juga yang dilakukan oleh kera gibbon di masa kini; dan kita dapat menyimpulkan dari analogi yang sangat luas tersebar, kalau kekuatan ini mungkin muncul khusus pada saat berpasangan, -- yang menunjukkan emosi beragam, seperti cinta, cemburu, menang – dan menjadi sebuah tantangan untuk lawannya. Dengan demikian, mungkin kalau imitasi suara musik dengan suara artikulasi memunculkan kata-kata yang mencerminkan beragam emosi yang lebih rumit. Kecenderungan yang kuat dalam sekutu terdekat kita, monyet, dalam mereka yang idiot karena menderita mikrocephalus (56. Vogt, 'Memoire sur les Microcephales,' 1867, p. 169. Dengan melihat pada orang primitif, saya memberikan beberapa fakta dalam karya saya 'Journal of Researches,' dll., 1845, p. 206.), dan dalam ras-ras barbar umat manusia, untuk mengimitasi apa yang mereka dengar dan pantas untuk diperhatikan, sebagai subjek imitasi. Karena monyet jelas memahami banyak yang diucapkan manusia kepada mereka, dan saat liar, mengucapkan teriakan peringatan bahaya pada teman mereka (57. Lihat bukti nyata bahasan ini dalam dua karya yang begitu sering dikutip, dari Brehm dan Rengger.); dan karena ayam memberi suara peringatan bahaya di tanah, atau di langit dari elang (keduanya, sebagaimana teriakan ketiga, cerdas pada anjing) (58. Houzeau memberi bahasan yang menarik dalam pengamatannya dalam subjek ini dalam 'Facultes Mentales des Animaux,' tom. ii., p. 348.), tidaklah aneh kalau hewan bijaksana mirip kera dapat mengimitasi geraman predator, dan memberi tahu monyet temannya sifat dari bahaya yang akan muncul? Ini adalah langkah pertama dalam membentuk bahasa.
Saat suara semakin sering digunakan, organ vokal menguat dan menjadi sempurna lewat prinsip efek penggunaan yang diwariskan; dan ini bereaksi pada kekuatan berbicara. Namun hubungan antara penggunaan terus menerus bahasa dan perkembangan otak, tidak diragukan jauh lebih penting. Kekuatan mental dalam beberapa leluhur awal manusia pasti telah lebih berkembang daripada kera lainnya, bahkan sebelum bentuk berbicara yang paling kasar digunakan; namun kita dapat yakin kalau penggunaan berlanjut dan kemajuan dari kekuatan ini dapat bereaksi pada pikiran itu sendiri, dengan memungkinkan dan mendorongnya membawa latihan berpikir yang panjang. Sebuah latihan berpikir yang rumit tidak lebih dibawa lewat bantuan kata-kata, apakah diucapkan atau diam, daripada sebuah perhitungan yang panjang tanpa menggunakan gambar atau aljabar. Tampak juga kalau bahkan sebuah latihan biasa berpikir hampir memerlukan, atau sangat difasilitasi oleh beberapa bentuk bahasa, karena seorang gadis yang dungu, tuli dan buta, Laura Bridgman, diamati menggunakan jarinya saat bermimpi. (59. Lihat pembahasan ini oleh Dr. Maudsley, 'The Physiology and Pathology of Mind,' 2nd ed., 1868, p. 199.)
Walau begitu, suksesi yang panjang dari gagasan yang jekas dan saling hubung dapat lewat ke pikiran tanpa bantuan bentuk bahasa apapun, sebagaimana yang dapat kita simpulkan dari gerakan anjing saat bermimpi. Kita juga, melihat kalau hewan mampu bernalar pada sebuah derajat, dimanifestasikan tanpa bahasa. Hubungan erat antara otak, yang kini berkembang dalam diri kita, dan kemampuan berbicara, ditunjukkan dengan baik oleh kasus penyakit otak yang mempengaruhi lisan, dan saat kekuatan otak untuk mengingat hilang secara mendasar, sementara kata lain dapat digunakan dengan baik, atau dimana suatu kelas mendasar, atau semua kecuali huruf-huruf dasar dan nama tertentu di lupakan. (60. Banyak kasus menarik telah dicatat. Lihat, misalnya, Dr. Bateman 'On Aphasia,' 1870, pp. 27, 31, 53, 100, etc. Juga, 'Inquiries Concerning the Intellectual Powers,' oleh Dr. Abercrombie, 1838, p. 150.) Tidak ada lagi kemustahilan dalam penggunaan berterusan mental dan organ vokal membawa pada perubahan yang diwariskan dalam struktur dan fungsi, daripada dalam kasus tulisan tangan, yang tergantung sebagian pada bentuk tangan dan sebagian pada pola berpikir; dan tulisan tangan jelas diwariskan. (61. 'The Variation of Animals and Plants under Domestication,' vol. ii., p. 6.' Beberapa penulis, khususnya Prof. Max Muller (62. Kuliah pada 'Mr. Darwin's Philosophy of Language,' 1873.), telah menekankan kalau penggunaan bahasa menunjukkan kekuatan membentuk konsep umum; dan kalau tidak ada hewan yang memiliki kekuatan ini, ia menjadi batasan yang tidak dapat dilampaui antara mereka dan manusia. (63. Penilaiandari seorang filologis terkenal, seperti Prof. Whitney, tidak akan lebih menekankan pada point ini daripada yang dapat saya katakan. Ia mengatakan ('Oriental and Linguistic Studies,' 1873, p. 297), dalam membahas pandangan Bleek: “Karena dalam skala besar bahasa adalah pemercepat pikiran yang perlu, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kekuatan berpikir, pada pembedaan dan keragaman serta kerumitan kognisi hingga penguasaan penuh kesadaran; sehingga ia akan berpikir sungguh mustahil tanpa berbicara, memiliki kemampuan dengan instrumen ini. Ia dapat dengan rasional menyatakan kalau tangan manusia tidak dapat bertindak tanpa alat. Dengan doktrin demikian sebagai awal, ia tidak dapat paradoks terburuk Max Muller, dimana bayi (bayi tidak berbicara) bukanlah manusia, dan kalau orang yang bisu-tuli tidak memiliki nalar hingga mereka belajar menggerakkan jari mereka untuk mengimitasi kata-kata lisan.” Max Muller memberi dalam cetak miring aforisme ini ('Lectures on Mr. Darwin's Philosophy of Language,' 1873, third lecture) : “Tidak ada pikiran tanpa kata-kata, sama kecilnya dengan tidak ada kata-kata tanpa pikiran.” Betapa definisi yang aneh harus diberikan pada kata pikiran!) Dengan melihat pada hewan, saya telah menjelajah untuk menunjukkan kalau mereka memiliki kekuatan ini, paling tidak dalam derajat yang kasar. Sejauh kemampuan bayi berusia sepuluh hingga sebelas bulan, dan bisu-tuli, tampak lebih hebat bagi saya, karena mereka mampu mengkaitkan suara tertentu dengan gagasan umum tertentu secepat mereka bisa, kecuali gagasan tersebut telah ada dalam pikiran mereka. Hal yang sama dapat diperluas pada hewan yang lebih cerdas; sebagaimana Tuan Leslie Stephen amati (64. 'Essays on Free Thinking,' etc., 1873, p. 82.), "Seekor anjing membingkai sebuah konsep umum kucing atau domba, dan tau kata yang berkaitan dengannya sama halnya dengan seorang filsuf. Dan kapasitas untuk memahaminya sama baiknya dengan bukti kecerdasan vokal, walau dalam derajat inferior, sebagai kapasitas untuk berbicara.”
Kenapa organ yang sekarang dipakai untuk berbicara mesti telah pada awalnya disempurnakan untuk tujuan ini, ketimbang pada organ lainnya, tidaklah sulit untuk dilihat. Semut memiliki kemampuan interkomunikasi yang dapat diperhitungkan dengan menggunakan antena mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh Huber, yang menghabiskan seluruh bab membahas bahasa yang mereka gunakan. Kita dapat memakai jari kita sebagai instrumen yang efisien, untuk orang dengan praktek dapat melaporkan pada orang tuli setiap kata dari sebuah pembicaraan secara cepat yang diberikan dalam sebuah pertemuan umum; namun tanpa tangan kita, dapat mengakibatkan ketidaknyamanan yang serius. Karena semua mamalia memiliki organ vokal, dibangun pada bidang umum yang sama seperti kita, dan dipakai sebagai alat komunikasi, jelas mungkin kalau organ yang sama ini akan terus berkembang bila kemampuan komunikasi membaik; dan ini dipengaruhi oleh bantuan menyatukan dan mengadaptasi bagian-bagian, yaitu lidah dan bibir. (65. Lihat beberapa bahasan menarik mengenai hal ini oleh Dr. Maudsley, 'The Physiology and Pathology of Mind,' 1868, p. 199.) Fakta kalau kera tingkat tinggi tidak memakai organ vokal mereka untuk berbicara, tidak diragukan tergantung pada kecerdasan mereka yang belum cukup maju. Kepemilikan organ oleh mereka, yang dengan latihan lama dan berkelanjutan dapat dipakai untuk berbicara, walau tidak digunakan, sejajar dengan kasus banyak burung yang memiliki organ yang cocok untuk bernyanyi, walau mereka tidak pernah bernyanyi. Sehingga, nightingale dan gagak memiliki organ vokal yang sama bangunannya, dipakai oleh nightingale untuk meragamkan lagu, dan oleh gagak hanya untuk berteriak. (66. Macgillivray, 'Hist. of British Birds,' vol. ii., 1839, p. 29. Seorang pengamat luar biasa, Tuan. Blackwall, menceritakan kalau magpie belajar menyebutkan kata-kata tunggal, dan bahkan kalimat pendek, lebih siap daripada hampir semua burung di Inggris; namun, sebagaimana ditambahkannya, setelah lama mempelajari perilaku mereka dari dekat, ia tidak pernah mengetahui ini, dalam kondisi alami, menunjukkan adanya kapasitas imitasi yang aneh. 'Researches in Zoology,' 1834, p. 158.) Bila ditanya mengapa kera tidak memiliki kecerdasan yang berkembang sama derajatnya dengan manusia, jawabannya hanya dapat berupa penyebab umum, dan tidak masuk akal mengharapkan jawaban yang lebih pasti, dengan pertimbangan pada ketidak pedulian kita dalam melihat tahap perkembangan yang mesti dilewati setiap mahluk.
Formasi beragam bahasa dan spesies berbeda, dan bukti kalau keduanya berkembang lewat proses yang bertahap, tampak sejajar. (67. Lihat kesejajaran yang sangat menarik antara perkembangan spesies dan bahasa, yang diberikan oleh Sir C. Lyell dalam 'The Geological Evidences of the Antiquity of Man,' 1863, chap. xxiii.) Namun kita dapat melacak pembentukan banyak kata jauh lebih ke masa lalu daripada spesies, karena kita dapat mempersepsi bagaimana mereka muncul dari imitasi beragam suara. Kita menemukan dalam bahasa berbeda proses pembentukan yang sama. Perilaku dimana huruf atau suara tertentu berubah saat yang lain berubah sangat terkait dengan pertumbuhan. Kita punya dalam kedua kasus reduplikasi bagian-bagian, efek penggunaan jangka panjang, dan sebagainya. Keberadaan yang sering dari hal kasar, baik dalam bahasa dan spesies, masih sangat jelas. Huruf m dalam kata am, berarti I (saya); sehingga ekspresi I am (saya), berlebihan dan dinilai kasar namun tetap dipertahankan. Dalam pengejaan kata juga, huruf sering kasar dengan mempertahankan bentuk kuno dari pengucapan. Bahasa, seperti mahluk organis, dapat dikelompokkan dalam grup dalam grup; dan mereka dapat diklasifikasi secara alami berdasarkan keturunan, atau secara buatan dengan karakter lain. Bahasa dan dialek dominan menyebar luas, dan membawa pada kepunahan bertahap bahasa lainnya. Sebuah bahasa, sama seperti sebuah spesies, saat punah, seperti dikatakan Sir C. Lyell, tidak akan muncul kembali. Bahasa yang sama tidak pernah memiliki dua tempat lahir. Bahasa berbeda dapat disilangkan atau digabungkan. (68. Lihat penjelasan mengenai efek ini oleh Rev. F.W. Farrar, dalam sebuah artikel menarik, berjudul 'Philology and Darwinism,' in 'Nature,' March 24th, 1870, p. 528.) Kami melihat keragaman dalam setiap bahasa, dan kata-kata baru terus dibuat; namun karena terdapat batasan bagi ingatan, kata-kata tunggal, seperti seluruh bahasa, secara bertahap punah. Sebagaimana dijelaskan oleh Max Muller (69. 'Nature,' January 6th, 1870, p. 257.) : -- “Sebuah pertarungan untuk kehidupan terus terjadi antara kata-kata dan bentuk gramatikal dalam tiap bahasa. Semakin baik, semakin singkat dan semakin mudah bentuknya terus mendapat tempat, dan mereka memperoleh sukses karena nilai inheren mereka.” Pada sebab yang lebih penting dari kebertahanan hidup beberapa kata, kebaruan dan gaya dapat ditambahkan; karena terdapat dalam pikiran seseorang kesenangan yang kuat untuk merubah sedikit sesuatu. Keberlangsungan hidup atau kelestarian kata-kata tertentu dalam perjuangan untuk ada adalah seleksi alam.
Konstruksi yang sangat teratur dan rumit dari bahasa banyak bangsa bar-bar telah diajukan sebagai sebuah bukti, dari asal usul ilahiah bahasa ini, atau ketinggian budaya peradaban para pembangunnya. Sehingga F. von Schlegel menulis: “Dalam bahasa-bahasa yang tampak merupakan bagian terendah dalam budaya intelektual, kita sering mengamati derajat seni yang sangat tinggi dan bagus dalam struktur gramatikal mereka. Ini khususnya dalam kasus bahasaa Basque dan Lapponian, dan banyak bahasa asli Amerika.” (70. Dikutip oleh C.S. Wake, 'Chapters on Man,' 1868, p. 101.) Namun dapat dipastikan salah untuk menyebut bahasa sebagai salah satu bentuk seni, dalam hal ia telah dibuat dan dibentuk secara metodik. Filologis kini mengakui kalau konjugasi, deklensi, dll., pada awalnya merupakan kata-kata terpisah, lalu disatukan; dan kata tersebut menunjukkan hubungan yang paling jelas antara objek dan orang, tidak mengejutkan kalau mereka dipakai oleh manusia dari sebagian besar ras pada zaman paling awal. dengan melihat pada kesempurnaan,, ilustrasi berikut paling baik dalam menunjukkan betapa mudahnya kita dapat salah; seekor Krinoid kadang terdiri dari tidak kurang 150 ribu potong cangkang (71. Buckland, 'Bridgewater Treatise,' p. 411.), semua tersusun dengan simetri sempurna dalam garis radiasi; namun seorang naturalis tidak mempertimbangkan seekor hewan semacam ini lebih sempurna daripada hewan bilateral yang memiliki lebih sedikit bagian, dan dengan tidak satu bagianpun yang sama, kecuali sisi tubuh yang berlawanan. Ia dengan adil mempertimbangkan diferensiasi dan spesialisasi dari organ sebagai uji kesempurnaan. Begitu juga dengan bahasa: yang paling rumit dan palnig simetris tidak harus diletakkan diatas bahasa yang tidak beraturan, disingkat, dan dipermainkan, yang telah meminjam kata-kata ekspresif dan bentuk berguna konstruksi dari beragam ras penakluk, yang ditaklukkan, atau imigran.
Dari sedikit pembahasan yang tidak sempurna ini saya menyimpulkan kalau konstruksi banyak bahasa barbar yang sangat rumit dan teratur, bukanlah bukti kalau mereka memiliki asal usul penciptaan secara khusus. (72. Lihat beberapa pembahasan yang baik mengenai kesederhanaan bahasa oleh Sir J. Lubbock, 'Origin of Civilisation,' 1870, p. 278.) Tidak pula, sebagaimana akan kita lihat, kemampuan mengartikulasi ucapan sendiri menwarkan penyangkalan pada keyakinan kalau manusia telah berkembang dari bentuk yang lebih sederhana.
3:30 AM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Akan sangat sulit untuk siapapun bahkan yang punya lebih banyak pengetahuan dari saya, untuk menentukan seberapa jauh hewat menunjukkan kekuatan mental yang tinggi ini. Kesulitan ini muncul dari kemustahilan menentukan apa yang ada di pikiran hewan; dan kembali, fakta kalau penulis berbeda dalam mengartikan beberapa definisi, yang menyebabkan kesulitan lebih jauh. Bila kita ingin menilai dari berbagai tulisan yang telah diterbitkan belakangan, tekanan terbesar tampak berada pada ketiadaan seluruhnya kekuatan abstraksi pada hewan, atau dalam membentuk konsep umum. Namun saat seekor anjing melihat anjing lain di jarak jauh, sering jelas kalau ia mengetahui kalau itu anjing secara abstrak; karena saat ia mendekat seluruh perilakunya berubah, bila anjing yang ia dekati itu temannya. Seorang penulis baru menunjukkan, kalau dalam semua kasus demikian ini adalah sebuah asumsi murni untuk menekankan kalau tindakan mental tidak pada dasarnya sama antara manusia dengan hewan. Bila keduanya merujuk apa yang ia temukan oleh inderanya pada sebuah konsep mental, maka keduanya sama. (44. Mr. Hookham, dalam sebuah surat kepada Prof. Max Muller, dalam 'Birmingham News,' May, 1873.) Saat saya mengatakan kepada anjing terrier saya, dalam suara bersahabat (dan saya sudah sering melakukan percobaan ini), “Hai, hai, dimana dia?” ia segera mengetahui itu adalah tanda kalau sesuatu harus segera diburu, dan pada umumnya segera melihat sekeliling, dan kemudian berlari ke rimbunan terdekat, untuk membaui hewan buruan, namun tidak menemukan apa-apa, ia mencari ke pohon terdekat untuk menemukan tupai. Sekarang apakah tindakan ini jelas menunjukkan kalau ia memiliki gagasan atau konsep umum dalam pikirannya kalau beberapa hewan harus ditemukan dan diburu?
Mungkin bebas diakui kalau tidak ada hewan yang memiliki kesadaran, bila istilah ini disederhanakan, kalau ia menunjukkan hal demikian, apakah ia datang ataukah pergi, atau apakah hidup dan mati itu, dan sebagainya. Namun bagaimana kita bisa yakin kalau seekor anjing yang tua dengan ingatan yang kuat dan kekuatan imajinasi, seperti ditunjukkan dengan mimpinya, tidak pernah mencerminkan perasaan senangnya di masa lalu atau perasaan sakit saat mengejar di masa lalu? Dan ini pastilah semacam bentuk kesadaran. Di sisi lain, seperti Buchner (45. 'Conferences sur la Theorie Darwinienne,' French translat. 1869, p. 132.) telah katakan, bagaimana sedikitnya seorang istri yang bekerja keras dari seorang primitif di Australia, yang memakai sedikit sekali kata-kata abstrak, dan bahkan tidak dapat menghitung sampai empat, menunjukkan kesadaran diri, atau bercermin pada sifat keberadaannya. Secara umum diakui, kalau hewan tingkat tinggi memiliki ingatan, perhatian, asosiasi, dan bahkan sedikit imajinasi dan nalar. Bila kekuatan ini, yang jauh berbeda dalam berbagai hewan, mampu berkembang, tampaknya tidak ada kemustahilan akan muncul kualitas yang lebih rumit, seperti abstraksi tingkat tinggi, dan kesadaran, dll., yang berevolusi lewat perkembangan dan kombinasi yang lebih sederhana. Telah buru-buru diajukan melawan pandangan ini kalau mustahil mengatakan pada titik apa dalam skala naik hewan mampu melakukan abstraksi, dll; namun siapa yang dapat mengatakan pada usia berapa hal ini terjadi pada anak kita? Kita melihat setidaknya kekuatan demikian berkembang pada anak-anak dalam derajat yang tidak dapat dipersepsi.
Kalau hewan mempertahankan individualitas mental mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Saat suara saya melemahkan usaha asosiasi lama dalam pikiran anjing yang sudah saya jelaskan, ia mestinya mempertahankan individualitas mentalnya, walau setiap atom dalam otaknya mungkin telah mengalami perubahan lebih dari sekali dalam selang lima tahun. Anjing ini mungkin telah dijadikan argumen yang lebih jauh untuk menghancurkan evolusionis, dan dikatakan, “Saya mematuhi mental di tengah segala suasana hati dan semua perubahan material … Ajaran kalau atom meninggalkan jejak mereka sebagai warisan atom lain jatuh ke dalam tempat mereka telah dikosongkan bertentangan dengan sifat kesadaran, dan dengan demikian adalah palsu; namun ajaran ini diharuskan oleh evolusionisme, akibatnya hipotesis mereka adalah palsu.” (46. The Rev. Dr. J. M'Cann, 'Anti-Darwinism,' 1869, p. 13.)
2:43 PM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Telah sering dikatakan kalau tidak ada hewan yang menggunakan alat; namun simpanse saat memecahkan buah yang keras, seperti kacang walnut, menggunakan batu. (37. Savage dan Wyman dalam 'Boston Journal of Natural History,' vol. iv., 1843-44, p. 383.) Rengger (38. 'Saugethiere von Paraguay,' 1830, s. 51-56.) dengan mudah mengajarkan monyet amerika untuk memecah biji palem yang keras; dan kemudian dengan usaha mereka sendiri, menggunakan batu untuk membuka kacang, dan juga kotak. Ia juga dipakai untuk memisahkan bagian lembut dari buah yang memiliki rasa tidak enak. Monyet lain diajarkan cara membuka tutup kotak besar dengan tongkat, dan setelah itu memakai tongkat sebagai pengungkit untuk memindahkan benda berat; dan saya sendiri melihat seekor orang utan meletakkan sebuah tongkat dalam celah, menyelipkan tangannya ke ujung lainnya, dan memakainya seperti pengungkit. Gajah yang dijinakkan di India diketahui mematahkan ranting pohon dan memakainya untuk mengusir lalat; dan tindakan ini juga diamati pada seekor gajah di alam liar
(39. The Indian Field, March 4, 1871.) Saya telah melihat anak Orang utan, saat ia merasa akan dipecut, menutup dan melindungi dirinya sendiri dengan selimut atau jerami. Dalam beberapa kasus batu dan tongkat dipakai sebagai alat terapan; namun kadang pula digunakan sebagai senjata. Brehm (40. 'Thierleben,' B. i., s. 79, 82.) menyatakan, dalam kesaksian dari penjelajah terkenal Schimper, kalau di Abyssinia dimana baboon hanya memiliki satu spesies (C. gelada) membentuk pasukan dan turun dari pegunungan untuk menyerang ladang, dan mereka kadang bertemu dengan pasukan dari spesies lain (C. hamadryas), dan berperang. Gelada melongsorkan batu-batu besar, sementara Hamadryas berusaha menghindar, dan kemudian kedua spesies, saling berteriak nyaring dan berlari menyerang satu sama lain.
Brehm, saat menemani Duke of Coburg-Gotha, membantu dalam sebuah serangan dengan senjata api pada pasukan baboon di celah Mensa di Abyssinia. Baboon kembali menggulingkan begitu banyak batu turun dari gunung, sebagian sebesar kepala manusia, sehingga para penyerang harus mundur; dan jalan tersebut tertutup sementara untuk rombongan. Perlu diperhatikan kalau baboon ini berperilaku seperti dalam konser. Tuan Wallace (41. 'The Malay Archipelago,' vol. i., 1869, p. 87.) tiga kali melihat orang utan betina, ditemani oleh anak mereka, “mematahkan ranting dan buah durian, dengan sangat marah; melempari kami dengannya sehingga kami tidak dapat mendekati pohon.” Seperti yang telah lihat berulang kali, seekor simpanse akan melemparkan apa saja di tangannya pada orang yang menyerangnya; dan baboon dari Tanjung Harapan menyiapkan lumpur untuk tujuan yang sama.
Di Taman Zoologis, seekor monyet, yang memiliki gigi yang rapuh, memakai batu untuk memecahkan kacang yang keras; dan saya yakin kalau sang monyet yang setelah memakai batu tersebut, menyembunyikannya dalam jerami, dan tidak akan membiarkan monyet lain menyentuhnya. Disini, kemudian, saya mendapatkan gagasan mengenai kepemilikan; namun gagasan ini umum pada setiap anjing dengan sebuah tulang, dan pada sebagian besar atau semua burung dengan sarang mereka.
Duke of Argyll (42. 'Primeval Man,' 1869, pp. 145, 147.) mengatakan kalau pembuatan sesuatu untuk tujuan tertentu sangat aneh bagi manusia; dan ia memandang bentuk ini memisahkan antara dirinya dan mahluk hidup lainnya. Tidak diragukan sebuah perbedaan yang sangat penting; namun tampak bagi saya lebih banyak kebenaran dalam saran dari Sir J. Lubbock (43. 'Prehistoric Times,' 1865, p. 473, etc.), kalau saat manusia purba pertama kali menggunakan alat batu untuk suatu tujuan, ia akan tidak sengaja menghancurkannya, dan kemudian memakai bagian yang tajam dari pecahan tersebut. Dari langkah ini dimulailah memecahkan sedikit batuan secara kasar, belum dengan gaya tertentu. Kemajuan ini, kemudian, seiring bertambahnya waktu yang sangat panjang sebelum manusia tiba pada zaman neolitikum hingga manusia mampu menggerinda dan menyemir alat batu mereka. Dalam memecahkan batuan, seperti yang disebutkan oleh Sir J. Lubbock, percikan dapat muncul, dan menggerindanya akan menghasilkan panas yang kemudian berevolusi menjadi metode-metode untuk memperoleh api. Sifat dari api telah diketahui banyak mereka yang tinggal di daerah gunung berapi dimana lava sering mengalir melewati hutan. Kera antropomorfik, dikendalikan mungkin oleh naluri, membangun sendiri tempat berteduh sementara; namun sebanyak apapun naluri, mereka dikendalikan terutama oleh nalar, yang paling sederhana, seperti membangun tempat berteduh, mungkin sudah siap lewat menuju ke tindakan yang sadar dan harus. Orang utan dikenal menyelimuti dirinya pada waktu malam dengan dedaunan pandan; dan Brehm menyatakan kalau salah satu baboonnya melindungi dirinya sendiri dari panas dengan melemparkan karpet ke atas kepalanya. Dalam beberapa kebiasaan ini, kita mungkin melihat kalau ini adalah langkah pertama menuju kebudayaan yang lebih sederhana, seperti arsitektur atau pakaian, sebagaimana yang telah muncul dalam manusia purba.
2:40 PM
Posted In
Charles Darwin
,
Perbandingan Kekuatan Mental Manusia dan Hewan Rendah
,
The Descent of Man
,
Tulisan Charles Darwin
Edit This
Dari BAB III.
PERBANDINGAN KEKUATAN MENTAL MANUSIA DAN HEWAN RENDAH
Charles Darwin
The Descent of Man
1871
Walau begitu, banyak pengarang memaksakan kalau manusia dibedakan oleh batas yang tak tertembus dari semua hewan tingkat rendah dalam hal mental. Saya sebelumnya telah membuat sekumpulan aforisma demikian, namun mereka hampir tidak berguna, karena terdapat sejumlah besar perbedaan dan bukti kalau hal ini sulit, bila tidak mustahil, untuk dibuktikan. Telah ditekankan kalau manusia sendiri yang mampu melakukan perkembangan progresif; kalau ia sendiri yang mampu menggunakan api, beternak, atau memiliki barang; kalau tidak ada hewan yang memiliki kemampuan abstraksi, atau membentuk konsep umum, yang sadar dan dapat dipahami dirinya sendiri; kalau tidak ada hewan yang memiliki bahasa; mampu membuat hukum, kalau manusia saja yang memiliki naluri keindahan, kemampuan untuk berterima kasih, misteri, dll; serta keyakinan pada Tuhan atau diberkahi dengan nurani. Saya akan menyerang beberapa klaim ini pada point-point yang lebih penting dan menarik.
Archbishop Sumner sebelumnya mengatakan (31. Dikutip oleh Sir C. Lyell, 'Antiquity of Man,' p. 497.) kalau hanya manusia yang mampu memiliki kemajuan yang progresif. Kalau ia mampu membuat kemajuan yang lebih besar dan lebih cepat, diakui tanpa perlu perdebatan; dan ini terutama karena kemampuannya berbicara dan menata pengetahuan yang ia dapatkan. Dengan hewan, melihat pertama kali pada individual, setiap orang yang memiliki pengalaman dengan merancang jebakan, tahu kalau hewan muda dapat ditangkap lebih mudah daripada hewan yang sudah tua; dan mereka dapat lebih mudah didekati oleh musuhnya. Bahkan dengan melihat pada hewan yang sudah tua, adalah mustahil menangkap jumlah yang banyak di tempat yang sama dengan perangkap yang sama, atau untuk menghancurkan mereka dengan racun yang sama; dan masih mustahil kalau semua telah mengambil racun ini, dan mustahil pula kalau semua akan tertangkap dalam perangkap. Mereka pasti telah belajar untuk berhati-hati pada racun dan perangkap. Di Amerika Utara, dimana hewan berbulu telah sejak lama diburu, mereka menunjukkan, menurut kesaksian dari semua pengamat, sejumlah besar tindakan cerdik, licik dan penuh kehati-hatian; namun penangkapan telah dilakukan begitu lama, sehingga pewarisan mungkin telah ikut serta. Saya telah menerima beberapa kesaksian mengenai sat telegraf pertama kali di bangun, banyak burung mati karena menabrak kawat, namun dalam beberapa tahun mereka telah belajar menghindari bahaya ini, dengan melihat, bagaimana rekan mereka mati. (32. Untuk bukti tambahan, dengan detil, lihat M. Houzeau, 'Etudes sur les Facultes Mentales des Animaux,' tom. ii., 1872, p. 147.)
Bila kita melihat pada generasi yang berturutan, atau pada ras, tidak diragukan kalau burung dan hewan laainnya secara bertahap memiliki dan kehilangan kehati-hatian terkait dengan manusia dan musuh lainnya (33. Lihat, dengan melihat pada burung di kepulauan Oceania, karya saya 'Journal of Researches during the Voyage of the "Beagle,"' 1845, p. 398. 'Origin of Species,' 5th ed. p. 260.); dan kehati-hatian ini jelas utamanya merupakan bagian yang diwariskan atau naluri, namun sebagian lagi adalah hasil pengalaman individual. Seorang pengamat yang baik, Leroy (34. 'Lettres Phil. sur l'Intelligence des Animaux,' nouvelle edit., 1802, p. 86.), mengatakan, kalau didaerah di mana rubah lebih sering diburu, yang muda, pertama kali meninggalkan sarang mereka, jauh lebih waspada daripada yang tua didaerah dimana mereka tidak banyak diburu.
Anjing peliharaan kita merupakan keturunan dari serigala dan jackal (35. Lihat buktinya dalam chap. i., vol. i., 'On the Variation of Animals and Plants under Domestication.'), dan walau mereka tidak memiliki kelicikian, dan mungkin telah kehilangan sifat kuatir dan curiga, namun mereka semakin maju dalam beberapa kualitas moral seperti kasih sayang, kepercayaan, perangai, dan mungkin kecerdasan umum. Tikus biasa telah menaklukkan dan mengalahkan beberapa spesies lain di Eropa, di sebagian Amerika Utara, Selandia Baru, dan baru-baru ini di Formosa, dan juga Cina daratan. Tuan Swinhoe (36. 'Proceedings Zoological Society,' 1864, p. 186.), yang menjelaskan dua kasus terakhir, menisbahkan kemenangan tikus biasa ini pada Mus coninga yang besar karena kelicikan mereka yang superior; dan kualitas terakhir ini mungkin diatributkan pada latihan kebiasaan dari semuanya dalam menghindari perjumpaan dengan manusia, dan juga hampir semua tikus yang kurang licik atau berpikiran lebih lemah telah terus dihancurkan olehnya. Ini, walau begitu, mungkin kalau keberhasilan tikus biasa karenaa ia memiliki kelicikan lebih baik daripada spesies rekannya, sebelum ia berasosiasi dengan manusia. Untuk mempertahankan, secara independen semua bukti langsung, kalau tidak ada hewan pada sepanjang jaman telah maju dalam kecerdasan atau sifat mental lainnya, adalah sama dengan memohon pertanyaan pada evolusi spesies. Kita telah melihat kalau, menurut Lartet, mamalia yang ada dalam beberapa ordo memiliki otak lebih besar daripada prototipe tersier purbanya.